Kisah seorang di Negeri Seberang
Sunday, April 22nd, 2007Alkisah di suatu negeri,,hiduplah seorang anak. ketika itu, ia, yang masih duduk di bangku sekolah tingkat pertama diberi amanah yang menurut dirinya adalah hal yang tidak mungkin baginya.
Sebutlah nama anak itu budhi. Suatu waktu, si Budhi ditawari untuk mengisi form CV / data diri. Dengan polos dan jujurnya ia mengisinya. Tak lama waktu berselang,, ia mendapat kiriman surat. Surat itu tidak seperti surat yang biasanya ia terima dari sahabatnya, pada surat itu terdapat lambang dua buah negara. Yang pertama lambang negaranya sendiri, dan yang kedua, lambang dari negeri Sakura. Terheran-heran dibukanya surat itu. Setengah tidak percaya +takjub ia membaca isi yang ada di dalamnya. Ternyata.. ia terpilih untuk ikut pertukaran-pelajar ke negeri Sakura, dalam misinya adalah kebudayaan, untuk waktu yang tidak terlalu lama memang.. 2 pekan. Setelah mengkonfirmasi kepastian kebenaran surat itu, Budhi segera siap-siap walaupun perjalanannya ke negeri Sakura masih satu bulan lagi. Waktu berlalu begitu cepat hingga takterasa hari keberangkatan tak lebih dari 7 hari lagi. Segera saja ia pamit dengan guru dan teman2 sekelasnya sebelum ia bertolak ke ibu kota. Kebetulan, paman Budhi tinggal di Ibu kota, sehingga ia taktertolong karenanya. Di Ibu kota, budhi bertemu dengan teman2 yang senasip dengannya. Ternyata, yang pergi ke negeri Sakura ada 7 orang termasuk Budhi. Lima orang lain adalah teman sepantarannya, sedangkan seorang lagi adalah seorang paman yang bertugas mendampingi mereka berlima.
Tiba di negeri Sakura, Budhi dan teman2 merasa asing dengan suasananya. Di negeri tempat mereka hidup, hanya ada musim hujan dan kemarau. Sedangkan di negeri tempat mereka berpijak sekarang memiliki 4 musim, saat itu sedang musim gugur. Udara berhembus sepoi-sepoi, matahari bersinar dengan hangat namun tidak panas di kulit menemani perjalanan mereka dari bandara ke tempat penginapan. Selama 2 pekan, yang 1 pekan adalah homestay dan sisanya kunjungan budaya.
Memasuki pekan homestay, tak ada hal yang lebih dikhawatirkan Budhi dari masalah komunikasi dengan host family-nya. Ternyata, ia belum fasih berbahasa Sakura. Dalam pikirnya,”ini akan jadi pekan yang paling panjang dalam hidupku..” . Untungnya, ia bisa berbahasa Inggris walaupun agak belepotan.
Dalam waktu 1 pekan itu ia mempelajari banyak hal. Mulai dari kebiasaan orang-orang negeri Sakura, makanan yang mereka makan, pergaulan, hobi, sampai sistem kedisiplinan mereka, yang dianggap oleh Budhi merupakan hal yang luar biasa karena orang-orang di negerinya belum banyak yang bisa sekonsisten itu. Takterasa waktu 1 pekan dilalui dengan cepatnya, saat ini ia harus berpisah dengan host-family yang sudah mulai ia sayangi.
Selama 1 pekan berikutnya, budhi dan kelima temannya dan seorang leadernya melanjutkan perjalanan ke beberapa kota di negeri Sakura itu, yaitu selain untuk bertukar budaya dengan sekolah yang mereka kunjungi, juga melihat beberapa obyek wisata yang ada di sana.
Ternyata perjalanan selama 2 pekan memang benar-benar singkat, namun penuh makna. Akhirnya Budhi kembali ke tanah airnya. Banyak hal yang ia dapatkan. Banyak hal pula yang dapat ia jadikan bahan renungan bagi negerinya tercinta. Mulai saat itu tekad si Budhi untuk lebih memajukan negerinya semakin berkobar. Ia tak ingin negeri tempatnya lahir, hidup, dan dibesarkan terpuruk dalam krisis.
Ia ingin negerinya bangkit, paling tidak dari setiap individunya sudah berpikir dewasa dan maju. Dewasa dalam artian tidak bertindak semaunya sendiri, tapi bisa menempatkan diri sesuai dengan keadaan. Sedangkan berpikir maju yang dimaksud Budhi adalah berpikir yang dinamis. Tentunya hal itu tidak mungkin bisa dilakukan Budhi jika ia hanya seorang diri. Itulah sebabnya, paling tidak ia memulai hal itu dari dirinya sendiri. Karena, tak kan ada artinya usaha untuk merubah orang lain , jika dalam diri sendiri tidak ada niatan dan usaha untuk melakukan perubahan itu. Semuanya akan sia-sia.
Wallahu`alam bishowab.